Di era perubahan yang cepat dan kompleks, peserta didik tidak cukup hanya dibekali pengetahuan akademik. Mereka perlu memiliki kemampuan berpikir kritis (critical thinking) dan jiwa kepemimpinan (leadership) agar mampu mengambil keputusan bijak, menyelesaikan masalah, dan memberi dampak positif bagi lingkungan. SMA Al-Irsyad Surabaya menjawab tantangan ini melalui pendekatan pendidikan yang terintegrasi antara ilmu, nilai Islam, dan pengalaman nyata.
SMA Al-Irsyad Surabaya menempatkan critical thinking sebagai keterampilan yang dilatih secara berkelanjutan. Pembelajaran dirancang untuk mendorong siswa bertanya, menganalisis, dan mengevaluasi informasi. Siswa tidak hanya dituntut mengetahui apa, tetapi juga memahami mengapa dan bagaimana.
Melalui diskusi kelas, studi kasus, dan analisis masalah kehidupan nyata, peserta didik dilatih melihat persoalan dari berbagai sudut pandang serta menyusun solusi yang logis dan bertanggung jawab.
Pendekatan pembelajaran berbasis proyek dan STEAM Qurani menjadi sarana utama dalam melatih critical thinking. Siswa mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu untuk menyelesaikan proyek yang relevan dengan kehidupan. Dalam proses ini, mereka belajar merumuskan masalah, merancang solusi, menguji ide, serta melakukan refleksi atas hasil yang dicapai.
Nilai-nilai Qur’ani dihadirkan sebagai landasan etika berpikir, sehingga kecerdasan intelektual berjalan seiring dengan kesadaran moral.
Di SMA Al-Irsyad Surabaya, kepemimpinan tidak dipahami sebatas jabatan, melainkan kemampuan memimpin diri sendiri. Siswa dibimbing untuk memiliki disiplin, tanggung jawab, dan integritas dalam setiap aktivitas. Dari sini, kepemimpinan tumbuh secara alami sebagai karakter, bukan sekadar peran.
Melalui pembiasaan ini, siswa belajar bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mampu bersikap amanah dan memberi teladan.
Sekolah menyediakan berbagai ruang bagi siswa untuk mempraktikkan kepemimpinan, baik melalui kegiatan organisasi, proyek kelompok, maupun program pembinaan karakter. Dalam setiap aktivitas, siswa dilatih mengambil keputusan, mengelola tim, berkomunikasi secara efektif, dan menyelesaikan konflik dengan bijak.
Pendekatan ini membantu siswa memahami dinamika kepemimpinan secara langsung, bukan hanya secara teoritis.
Peran guru di SMA Al-Irsyad Surabaya sangat sentral dalam pembinaan critical thinking dan leadership. Guru hadir sebagai mentor yang membimbing proses berpikir siswa, memberikan umpan balik yang membangun, serta menjadi teladan dalam bersikap dan mengambil keputusan. Hubungan yang dekat dan humanis menjadikan proses pembinaan lebih efektif dan bermakna.
Melalui pendekatan yang terintegrasi, SMA Al-Irsyad Surabaya berupaya membentuk lulusan yang mampu berpikir jernih, bersikap bijak, dan memimpin dengan nilai-nilai Islam. Critical thinking dan leadership tidak berdiri sendiri, tetapi tumbuh seiring dengan keimanan dan akhlak mulia.
Melatih critical thinking dan leadership di SMA Al-Irsyad Surabaya bukanlah program sesaat, melainkan proses pembinaan berkelanjutan. Dengan pembelajaran yang kontekstual, pendampingan guru sebagai mentor, serta penanaman nilai Qur’ani, sekolah menyiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan dan mampu menjadi pemimpin yang membawa kebaikan bagi umat dan bangsa.