• Home
  • Beyond the Last Goodbye

Beyond the Last Goodbye

Beyond the Last Goodbye

Oleh : Aulia Adylla Cempaka/XII-BI Karya Siswa Kelas Literasi

Sapuan lembut dari semilir angin terus mengenai kulitku. Tatapanku tertuju pada rumah tua yang berdiri di antara pepohonan yang begitu lebat, aku terus bertanya-tanya pada diriku “Apakah tiada lagi hal yang dicarinya?” “Bagaimana bisa ia bertahan?”. Pertanyaan-pertanyaan itu lantas terus melintas memenuhi benakku tanpa henti. Namun tiba-tiba saja seseorang memanggilku. Hal itu memecah kebisingan yang terus berlalu lalang dalam benakku. Aku tak lantas menoleh menuju arah suara karena aku yakin bahwa suara itu tak terdengar familiar. Perlahan tapi pasti aku berusaha untuk memutar balik tubuhku. Aku cukup lega saat mengetahui bahwa panggilan tersebut berasal dari pedagang yang menjajahkan dagangannya kepadaku. Aku tersenyum dan bertanya mengenai harga dari semangkuk wedang jahe yang ia tawarkan. Aku pun kembali ke bangku besi yang terletak tepat di ujung telaga itu. Sembari memegangi mangkuk wedang jahe yang baru saja kubeli aku kembali menatap kosong kearah ombak yang seolah menderu. Angin dingin terasa menerpa diriku dengan kencangnya seolah hendak mendorongku begitu jauh kearah yang tidak jelas.

Kekosongan. Ya, itulah yang menggambarkan diriku pada saat itu. Aku melihat kearah sekitar, hanya senyuman dan canda tawa yang kulihat. Aku merasa seperti seorang yang dikutuk oleh kegagalan. Namun, ada satu hal yang memecah kegundahan dalam hatiku. Nampak seekor angsa yang berusaha untuk berenang melawan arah ombak yang menerpanya dengan begitu kuat, aku berusaha mendekati pembatas untuk melihat apakah angsa tersebut baik-baik saja. Namun, betapa kagetnya diriku saat melihat pemandangan didepanku, bagaimana tidak ternyata angsa itu sedang berusaha untuk pergi mendekati ketiga bayi-bayi mungilnya yang belum pandai untuk berkelana mengarungi sapuan ombak. Hatiku terasa hangat, rasa hampa yang tadinya memenuhi diriku kini mulai pudar. Kini aku sadar bahwa terkadang Allah akan memberikan petunjuk melalu hal yang mungkin tidak kita sangka-sangka. Mahluk indah yang sering dianggap kejam oleh sebagian orang itulah yang menumbuhkan semangat dalam diriku. Aku mendongakkan kepalaku untuk melihat langit yang nampak kelabu itu, melihat bukit yang ada disekitarnya seolah menjadi tameng besar yang memberikan perlindungan.

Tersadar mengenai betapa besarnya kuasa yang diberikan oleh Allah yang menghampiriku pada saat itu. Senyum yang tadinya sirna seakan sudah tak bersisa, kini kembali muncul dengan merekah. Memberikan senyuman hangat kepada setiap orang yang menghampiriku pada saat itu. Aku menghela nafas dengan leganya, mengetahui bahwa dibalik rasa sakit yang kuterima pasti terdapat buah manis dibaliknya. Aku pun berjalan menuju villa tempat keluargaku menginap. Kini, bukan lagi ketegangan yang nampak pada raut wajahku. Semua menyadari hal ini, kami lantas menghabiskan sisa waktu pada hari itu dengan penuh canda tawa sembari menyantap segelas coklat panas untuk menghangatkan tubuh. Matahari mulai terbenam di arah barat, menandakan bahwa aku harus bersiap untuk berpindah menuju kamar tidurku untuk bersiap mengistirahatkan tubuhku setelah hari yang panjang dan melelahkan.

Bersandar di tepi ranjang kamar tidurku sembari menggenggam erat telepon genggamku. Namun, aku masih tak berani membukanya, aku masih merasa takut mengetahui fakta bahwa teman-teman dekatku diterima di SMA paling bergengsi di kota kami. Hal itulah yang membuatku murung beberapa hari belakangan. Aku berusaha untuk mengesampingkan kekhawatiranku, lagi pula aku belum memberikan ucapan selamat kepada teman-temanku atas kabar bahagia itu. Mencoba melakukannya dengan perasaan ikhlas dan tetap tabah. Meski awalnya terasa amat sulit, akan tetapi aku berhasil melakukannya dengan baik. Kami kembali bertukar kabar mengenai banyak hal, aku turut merasa bahagia mendengar cerita yang dilontarkan oleh teman-temanku. Namun, waktu sudah menunjukkan hendak memasuki pukul dua belas malam. Tentu kami harus mengakhiri obrolan kami dikarenakan sudah waktunya untuk beristirahat. Betapa terkejutnya diriku, diakhir obrolan mereka tiba-tiba memberiku semangat seolah mengetahui apa yang sedang aku rasakan tanpa kuberi tahu terlebih dahulu. Sembari memegang telepon genggamku, tanpa sadar air mataku menetes. Aku merasa tersentuh dengan perkataan yang baru saja kudengar, kehampaan yang ada dalam hatiku seakan tergantikan oleh kehangatan dari orang-orang yang ada disekitarku.

Setelah mengakhiri panggilan suara itu, aku bersiap untuk pergi tidur sembari terdiam menatap langit-langit dan mempertanyakan arah dan tujuan hidupku. Aku mulai berpikir bahwa aku tidak seharusnya terlalu terpaku dengan bagaimana orang-orang disekitarku akan memberikan reaksi jika aku dapat lolos ke SMA favorit itu. Aku menyadari bahwasannya selama ini aku bagaikan hidup hanya untuk mendapat pujian dari orang lain dalam banyak hal, bahkan hal remeh seperti bersekolah di SMA paling favorit di kota ini pun seolah menjadi suatu hal yang harus kuwujudkan, bahkan tanpa memikirkan sisi negatif dari opsi yang aku pilih. Seolah-olah mengabaikan apa point penting dalam kehidupan hanya demi mengejar validasi dari orang disekitarku memang tidak dapat dianggap sebagai hal yang baik untuk dilakukan. Aku mulai menyadari bahwa tidak seharusnya aku terus bersikap seperti ini. Perasaan rendah yang terus mengikuti diriku tentu harus segera kulepaskan dengan segera. Aku berpikir, apakah mungkin aku harus kembali seperti sediakala.

Setelah perjalanan panjang yang kulalui dan setelah beribu badai yang mengguncang diriku turut hadir membersamai, akupun memutuskan untuk kembali menjadi diriku yang dahulu. Aku ingin kembali menjadi pribadi yang membersamai Al-Qur’an dalam setiap langkahku, ditengah kegundahan aku ingin ayat-ayat Al-Qur’an  menjadi penawar dan pemberi ketenangan dalam hatiku. Aku ingin kembali memulai langkahku untuk lebih dekat dengan agamaku. Aku paham betul bahwa mungkin saja ini adalah tanda yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa agar aku dapat kembali dekat dengan Nya. Dahulu aku merupakan seorang gadis yang selalu memegang erat syariat. Namun, semakin lama diriku berada pada lingkungan ini, aku merasa bahwa ada banyak sekali hal-hal yang ikut berubah dalam diriku. Entah apa yang membuatku seperti ini. Kini aku sadar bahwa ini adalah waktuku untuk berubah membenahi diriku menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya dan dapat keluar dari lingkungan yang memporak-porandakan keimananku.

Meski pada awalnya aku masih saja merasa sedikit khawatir mengenai bagaimana orang-orang disekitarku akan memberikan penilaian pada diriku. Namun kini tekadku sudah cukup kuat. Aku mencoba untuk mengomunikasikan hal ini kepada kedua orang tuaku, mengenai permintaanku untuk kembali ke sekolah dengan basis agama yang kuat. Aku memperhatikan tatapan mata dari kedua orang tuaku dengan seksama, tentu saja timbul sebuah kekhawatiran dalam diriku ini. Namun, betapa kagetnya diriku saat mulai mendengarkan jawaban dari kedua orang tuaku. Perasaan gundah yang tadinya terus menyelimuti kini telah hilang sepenuhnya, kini aku sadar bahwa rencana yang Allah berikan selalu jadi yang terbaik. Raut wajahku berubah sepenuhnya usai mendengar jawaban dari kedua orang tuaku yang menandakan persetujuan dari ucapan yang mereka lontarkan.

Mungkin, beberapa orang akan berpikir bahwa aku tidak seberuntung anak-anak yang dapat lolos dalam seleksi untuk masuk ke SMA favorit yang ada di kota ini. Namun, bagiku hal ini tidaklah benar. Kebahagiaan bukanlah suatu hal yang dapat dinilai melalui satu atau dua saja sudut pandang yang berbeda, kebahagiaan juga dapat berasal dari sesuatu yang kita ciptakan dalam diri kita sendiri. Aku percaya bahwa apa yang kini menjadi takdirku tentu akan membawa diriku kepada masa depan yang indah. Untuk itu, tentu diperlukan sebuah proses dan perjuangan yang panjang, tidak ada satupun hasil yang dapat dicapai dengan singkat seperti apa yang dituliskan dalam dongeng pengantar tidur anak-anak. Semua ini membuatku merasa bahwa mungkin inilah yang disebut sebagai rasa ikhlas, merasa bebas dari tekanan yang pada awalnya seakan terus mencangkeram diriku dengan kuat dan turut membawakan kesedihan yang berujung tanpa alasan yang jelas dan tak berkesudahan.

Perjuanganku untuk menuntut ilmu dengan menyandang gelar baru, yakni sebagai siswi Sekolah Menengah Atas pun dimulai. Hari demi hari berlangsung dengan sangat luar biasa. Aku mencoba memegang janji yang telah kubuat dengan diriku sebelum resmi menjadi Siswi SMA Al-Irsyad. Aku mengutarakan janji yang kubuat kepada kedua orang tuaku untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan dapat dikenal dengan baik oleh orang-orang yang ada di lingkungan sekolah. Aku terus berusaha untuk menjadi yang terdepan dalam hal apapun pada saat menjadi peserta MPLS, meskipun aku sadar betul bahwa mungkin saja beberapa orang akan menanggapku bersikap agak berlebihan sebagai siswi yang baru saja berpindah ke lingkungan yang benar-benar baru. Meski demikian, jujur saja aku tidak merasakan kesepian dan perasaan bahwa mungkin saja aku benar-benar harus berjuang dan berdiri sendiri dengan kedua kakiku tanpa bersandar pada seorang pun karena aku telah menemukan beberapa teman dekat yang rasanya sudah cukup untuk memberikan ketenangan dalam diriku pada saat itu.

Namun, permasalahan yang terjadi nyatanya masih belum usai. Sesaat setelahnya aku mulai mendengarkan kabar-kabar yang kurang mengenakkan. Aku berusaha untuk tetap teguh pada pendirian yang kumiliki dan tak tergoyahkan sedikitpun karena aku sadar bahwa ada satu hal utama yang harus menjadi fokus dari apa yang sudah seharusnya aku prioritaskan. Akan tetapi, kini semuanya terasa amat berat hingga aku tak tahu harus bagaimana, aku merasa telah memutus janji yang telah kubuat dengan diriku sebelumnya. Aku mulai melupakan bagaimana diriku yang lalu, bagaimana diriku yang selalu dipenuhi oleh semangat untuk menjadi yang terdepan.

Dahulu aku percaya bahwa aku dapat terus melangkah kedepan tanpa harus menemui menemui hambatan yang seolah menghentikanku dengan kuatnya. Tali temali seakan mengikat kuat kedua tangan dan kakiku untuk berhenti bergerak. Aku terus berupaya untuk melepaskan tali temali itu tanpa bantuan dari orang lain. Setelah beribu upaya kulakukan, kini aku dapat bebas dari hambatan itu. Aku kembali menemukan diriku yang lama dengan semangat baru, kini aku mencoba untuk lebih realistis dalam menghadapi cobaan yang mungkin saja datang menerpa.

Langkah kecil yang perlahan mulai kujalani tanpa adanya perasaan tergesa-gesa, meskipun beberapa orang mungkin saja berpikir bahwa ini bukanlah hal yang dapat membantu, beberapa dari mereka mungkin berpikir bahwa ini semua hanyalah upaya yang tak berarti. Memandangi sesuatu yang tak sesuai dengan apa yang mereka harapkan dengan pandangan yang rendah seolah merasa jijik saat melihat keadaan tersebut, mungkin saja telah menjadi tabiat dari manusia. Tak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut cukup menguras energi yang kumiliki saat mengalaminya secara langsung, bahkan aku merasa bahwa berpegang teguh kepada keyakinan yang telah kumiliki sebelumnya masih belum cukup kuat untuk dijadikan sebuah sandaran ketika mengalami hal serupa. Merasakan perasaan yang seolah berkecamuk meskipun sudah berusaha untuk melawannya tentu menjadi suatu hal yang biasa. Aku yakin bahwa semua yang terjadi akan bergantung kepada bagaimana pandangan kita, serta bagaimana kita mengusahakan suatu hal.

Hari demi hari terus beganti, pergantian siang dan malam yang tadinya terasa seperti biasa, kini terasa jauh berbeda dibandingkan sebelumnya. Waktu seolah berputar lebih lama, semuanya terasa memuakkan. Tatapan dari orang lain yang dahulu amat kunantikan, kini menjadi suatu hal yang amat kuhindari. Aku berusaha untuk bangkit, lagipula aku sadar bahwa aku memiliki mimpi yang harus kukejar untuk memperoleh apa yang telah aku dambakan jauh sebelum hari ini. Menatap kearah cermin seolah sedang melihat diriku pada saat masih kecil, aku melihat seorang gadis dengan ambisi dan semangat yang membara. Teringat jelas dalam benakku bahwa gadis kecil itu tidak pernah sekalipun merasa ingin menyerah pada keadaan, ia selalu mencoba untuk menghadapi apa yang ada didepannya. Dahulu semua orang melihat gadis itu sebagai sosok yang cukup tegas dan memiliki pendirian kuat bagi anak seusianya. Beribu harapan besar ia utarakan tiap kali bertemu dengan orang-orang yang ia percaya. Disini aku mulai teringat akan suatu hal penting, bahwa harapan itu masih belum terpendam hingga saat ini. Aku pun tersadar bahwa menyerah bukanlah opsi yang harus kuambil, melainkan terus berjuang hingga harapan itu dapat kuwujudkan guna melihat senyuman tanda merasakan rasa bangga yang terlukis melalui garis bibir orang-orang teredekatku.

Langkah demi langkah kuambil guna keluar dari ketakutan tak berdasar yang terus kurasakan, aku ingin berbaur dengan orang-orang yang ada disekitarku dan mencoba berubah dari diriku yang sebelumnya. Setelahnya aku mulai tersadar bahwa mencoba untuk membuka diri dengan orang-orang disekitarku nyatanya tidak seburuk itu, entah mengapa aku dapat merasa bahwa diriku jadi lebih bersemangat tiap kali aku bersosialisasi dengan orang-orang itu. Perasaan lega yang mendalam telah membuang perasaan gundah yang tadinya kurasakan tanpa tersisa sedikitpun. Aku tak pernah menyangka bahwa aku dapat mulai bangkit dengan perlahan, aku juga tak pernah menyangka bahwa aku dapat menerima respon hangat dan uluran tangan dari orang-orang yang awalnya kukira hanya akan mencaci segala tindakan yang aku lakukan. Paerasaan bersalah karena salah memberikan penilaian tanpa dasar kini mulai muncul, entah apa yang ada dibenakku pada saat itu hingga menilai orang lain berdasarkan apa yang aku pikir akan terjadi dan tidak berdasarkan pada fakta yang ada.

Perlahan aku merasakan perubahan besar melalui bagaimana pandangan orang lain terhadap diriku juga turut berubah seiring dengan perubahan sikap yang aku lakukan setelah memutuskan untuk membuka diriku kepada orang lain. Perasaan puas dan bangga karena sebelumnya aku bahkan tidak pernah terpikir untuk mulai membuka diriku. Dahulu, aku merasa bahwa mungkin jika aku membatasi interaksi dengan orang lain mungkin saja aku dapat menjadi lebih fokus terhadap diriku dan dapat mencapai tujuanku untuk memperoleh predikat yang baik dalam segala mata pelajaran. Namun, hal tersebut nyatanya hanyalah sebuah kesalahan karena hal tersbeut hanya akan memberikan preassure yang dapat memicu kemunculan perasaan khawatir yang berlebihan. Berkumpul dengan orang-orang tersebut sembari membicarakan topik-topik yang sedang ramai diperbincangkan tentu menjadi hal yang tak terpikirkan olehku sebelumnya. Entah hal apa yang benakku dahulu merasuki jiwaku hingga membuatku berpikir hal-hal yang tidak nyata dan hanya membawa sebuah mala petaka besar.

Kini, aku tak lagi merasakan kesendirian, kini aku merasa bahwa aku telah dikelilingi oleh orang-orang yang membuatku tak lagi merasakan kecemasan tak berdasar itu. Aku merasa bersyukur bahwa apa yang aku pikirkan nyatanya tidak sedemikian buruknya. Mungkin hal ini dapat terdengar cukup aneh bagi orang-orang yang belum pernah merasakannya secara langsung. Kehangatan adalah satu kata yang amat tepat untuk menggambarkan orang-orang yang ada disekitarku saat ini. Bukan lagi ketakutan, melainkan sebuah kebahagiaan. Sorot mata yang penuh harapan dari seorang gadis kecil dengan ambisi yang besar kini kembali nampak dalam dirinya.

Malapetaka yang tadinya seolah menggerus kepercayaan dirinya hingga ia tak berdaya, kini justru memberikan pelajaran penting dan semangat yang baru kepadanya. Waktu silih berganti, tanpa sadar raport yang menandakan akhir dari kelas XI kini telah dibagikan. Betapa kagetnya diriku saat menyadari bahwa waktu telah berjalan begitu cepat bagaikan hembusan angin, berbeda dengan sebelumnya. Disaat keinginan yang kumiliki hanyalah menanti waktu matahari kembali tenggelam yang menandakan pergantian hari. Jika boleh jujur dahulu hal yang aku inginkan hanyalah menanti pergantian hari, sehingga aku dapat segera lepas dari belenggu yang amat menyiksa.

Memegang raport yang kuterima setelah perjalanan panjang yang penuh dengan rasa pahit dan manis yang bergabung menjadi satu, tentu memberikan perasaan penuh haru yang tiada tara. Disini aku menyadari bahwa apa yang kita usahakan tentu akan berbanding lurus dengan hasil yang akan kita peroleh, namun tentunya juga diperlukan keseimbangan antara tekad yang kuat dengan dorongan usaha dan tetap memanjatkan doa pada    Yang Maha Kuasa. Untuk pertama kalinya aku merasakan sedih yang mendalam karena perjuanganku di tempat yang membawaku pada banyak sekali pengalaman menakjubkan ini hendak berakhir tak lama lagi. Tak lama lagi aku akan berpisah dengan orang-orang yang membukakan kedua tangannya untukku, meski dahulu aku mencoba menutup diri darinya. Senyuman dan canda tawa yang memenuhi seisi ruang kelas setiap waktu mungkin hanya akan tinggal kenangan tak lama lagi. Selain itu terdapat banyak sekali lelucon yang mungkin tidak dapat dapat lagi aku dengar dari wajah-wajah gembiranya itu. Aku sadar bahwa tidak ada hal yang abadi di dunia ini. Namun, aku ingin bersama dengan mereka lebih lama lagi.

Waktu berjalan dengan cepatnya, seolah-olah sedang dikejar oleh suatu hal yang menyeramkan dan hendak memangsanya. Kucoba untuk menikmati masa-masa indah yang tak lama lagi akan berakhir. Apa boleh buat, aku tak bisa menghentikan ataupun mengulur waktu yang sedang berjalan. Perlahan aku pandangi wajah-wajah yang penuh kehangatan itu. Nampak jelas senyuman yang amat merekah dari wajahnya seolah-olah banyak hal baik akan menghampiri. Ruang kelas yang dahulu hanya aku dambakan ketenangannya, kini tak lagi. Aku ingin selalu mendengar riuh ricuh dari teman-temanku, aku sadar bahwa ini akan menjadi kenangan berharga yang suatu hari nanti akan aku rindukan. Mungkin suatu hari nanti kita akan menceritakan hal ini pada satu sama lain dengan perasaan haru, mengetahui bagaimana kenangan indah ini telah membawa kita pada kebahagiaan.

Satu hal yang kini memberikan kekhawatiran besar bagi diriku adalah waktu. Aku membenci bagaimana waktu seolah menghapus kenangan indah dalam ingatanku, aku juga membenci bagaimana waktu seolah membuatku lupa akan bagaimana perasaan suka cita yang dahulu aku rasakan. Namun, apa yang dapat kulakukan karena semuanya pasti akan melalui hal yang sama. Aku memahami bagaimana seseorang dapat mengatakan “Jika ada pertemuan, pasti aka nada perpisahan”. Akan tetapi, aku masih belum dapat melepaskan semua yang ada dengan sepenuhnya, perasaan khawatir mulai timbul. Sejuta pertanyaan kembali muncul dalam benakku tiap kali melihat wajah-wajah yang dipenuhi kebahagiaan itu, seolah tidak akan ada perpisahan diantara kita.

Aku menyadari bahwa waktu akan terus bergulir, akan ada banyak hal yang terjadi pada diri kita pada masa mendatang. Mungkin saja waktu terus mencoba untuk menghapus kenangan lama kita agar kita dapat lebih fokus dengan apa yang aka ada di masa mendatang. Tak dapat kubayangkan betapa beratnya perasaan yang tertimbun jika waktu memutuskan untuk tetap membiarkan jutaan kenangan untuk tersimpan dalam memori. Betapa menyeramkannya jika hal itu terjadi, banyak orang pasti akan diselimuti oleh perasaan duka yang mendalam dan perasaan bersalah. Kesulitan yang amat mendalam untuk dapat bangkit dari kesedihan yang pernah menimpanya dahulu. Hal ini mungkin akan beribu kali lipat lebih sulit untuk dilalui jika waktu terus membiarkan kenangan yang sudah berlalu untuk tetap tersimpan dengan baik didalam benak. Kekuatan untuk bangkit tentu akan lebih sulit untuk diperoleh jika kita terus menerus ada dalam lingkaran kesedihan yang tak berkesudahan.

Menerima takdir yang telah terukir bahwa akan ada banyak hal menyeramkan yang terpikirkan dalam benakku yang mungkin saja dapat terjadi. Kekhawatiran itu terus timbul bagaikan simpul tali yang tak berujung. Aku khawatir akan bagaimana lingkungan baru nantinya akan menerimaku, beribu pertanyaan terus berkecamuk dalam pikiranku. Aku terpikir mengenai bagaimana aku dapat melihat canda tawa dari teman-temanku saat kita sudah berpisah nantinya. Suaranya yang khas seolah menjadi senandung indah dari musik yang selalu ingin kunikmati setiap waktu, entah saat sedang bahagia maupun saat sedang merasa kalut. Semakin kucoba untuk melepaskannya semakin erat genggaman dari kenangan-kenangan itu. Aku berpikir bahwa mungkin saja hal-hal itu memang ada bukan untuk dihapuskan begitu saja, lain hal-nya dengan kenangan-kenangan lain yang hanya tinggal ingatan sekilas yang nampak amat samar didalam benakku. Ingatan yang terlukis dengan amat samar bagaikan hendak pergi tanpa meninggalkan bekas meski hanya sedikit. Seperti apa yang orang-orang telah katakan, bahwasannya kenangan yang ada di masa remaja akan membekas dengan amat jelas hingga nanti, kini sadar bahwa mungkin saja ini adalah pertanda baik bahwa kenangan yang tak terhapus ini tak akan menjadi momok menakutkan yang dapat menimbulkan trauma besar bagi diriku, melainkan senyuman dan gelak tawa.

Menyadari bahwa waktu yang kami miliki saat ini semakin berkurang, kini raut wajah penuh canda tawa darinya mulai tergantikan oleh wajah penuh kecemasan. Terkadang terdapat tangisan yang turut menggores hatiku yang memecah keheningan yang ada. Memberikan waktu yang tepat untuk dapat membantunya mengatasi kesedihan tersebut memang merupakan solusi terbaik yang mungkin dapat dilakukan. Melalui dukungan kecil yang diberikan, perlahan mereka kembali bangkit untuk dapat mengingat tujuan yang telah mereka gambarkan sejak lama. Satu hal yang dapat menggambarkan keadaan saat ini mungkin saja merupakan ketegangan tanpa henti yang terus menerus mendakati.Memberikan dukungan kepda satu sama lain untuk saling menguatkan tentu merupakan sebuah kunci utama.

Kini bukan lagi candaan dan tawa penuh kegembiraan yang seringkali muncul dari ruangan kelas tempat kami menimba ilmu, melainkan keheningan yang disertai hela nafas sebagai tanda dari rasa lelah yang timbul akibat tekanan dari segala arah. Melihat kearah jam dinding yang terus berdetak dan kalender yang digantung di sisi kanan ruang kelas, kini bukanlah menjadi perkara yang mudah. Mengetahui bahwa waktu kelulusan menjadi semakin dekat dan tinggal menghitung mundur hari-hari yang tersisa bagi kami untuk berbagi kebahagiaan dan kenangan indah bersama seperti saat ini. Rasa takut yang juga seringkali membuat beberapa dari kami merasa hilang arah dan membutuhkan sokongan dari satu sama lain juga telah menjadi hal yang kerap kali terjadi belakangan ini. Hanya kata-kata semangat yang dapat aku lantunkan pada saat ini, meski nampak sepele. Namun, aku yakin bahwa hal ini dapat membantu memberikan dorongan kecil.

Wajah yang dipenuhi rasa takut dan kekhawatiran, kini menjadi suatu hal yang amat familiar bagi kami. Perasaan takut gagal membanggakan kedua orang tua yang diikuti dengan harapan dan mimpi besar dari dalam diri juga turut menyertai. Saat ini tidak ada lagi hal yang dapat kita lakukan selain memanjatkan doa tanpa henti-hentinya kepada Yang Maha Kuasa. Aku tahu mungkin beberapa orang akan menganggap hal ini sebagai sesuatu yang tidak akan bertahan lama. Namun, bagiku tidak karena aku meyakini bahwa segala yang saat ini telah kami upayakan tentu akan menjadi kebiasaan baik dikedepannya, aku juga yakin bahwa kami bukanlah pribadi yang memanjatkan doa hanya disaat sedang memiliki keinginan besar seperti saat ini. Lagi pula, bagiku setiap waktu manusia tentu akan memiliki sebuah keinginan sehingga tidak ada alasan untuk berhenti mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa setiap waktu.

Kehilangan arah dan tujuan memang dapat menjadi hal yang amat buruk, akan tetapi dengan saling berpegangan dengan satu sama lain, aku yakin bahwa kita dapat melalui semua hal yang terjadi. Beribu terpaan ombak dan badai yang terasa amat memberatkan sehingga terkadang membuatku sulit untuk bangkit kembali setelah semua itu berlalu. Banyaknya cibiran yang datang dan menusuk diriku terkadang membuatku sulit untuk melupakannya. Merasa kehilangan tempat untuk bersandar dan berbagi cerita tiap kali berpindah ketempat yang baru juga mrupakan hal yang amat wajar terjadi. Meski demikian, aku yakin bahwa dengan tetap berusaha untuk bertahan dalam keadaan genting sekalipun dapat memberikan kekuatan yang dapat membantu diri kita pada masa yang akan datang. Aku yakin bahwa dalam hidup tidak ada satupun alasan yang dapat kita gunakan untuk menyerah pada keadaan. Berpegang teguh pada prinsip dan As-Sunnah juga menjadi penyokong utama yang dapat membantu kita untuk dapat melepaskan jeratan masalah yang mungkin menyertai diri kita.

Suatu hal yang amat kunanti-nantikan saat ini ialah ‘kesirnaan’. Namun, kesirnaan yang kumaksud bukanlah dalam konotasi yang buruk, melainkan sirna-nya wajah penuh kesedihan dan kekhawatiran yang terus melekat pada orang-orang disekitarku. Aku menantikan kembalinya wajah penuh bahagia dan canda tawa yang terdengar dari mereka. Mungkin, hal ini akan terdengar seolah aku hanya memberikan kepedulian yang palsu. Namun, hal ini tidaklah benar karena aku merasakan kesunyian tanpa henti yang seolah hendak menggantikan jiwaku disaat aku terus melihat kesedihan dan kekhawatiran yang ada pada wajah orang-orang disekitarku. Aku ingin memberikan bantuan dan uluran tangan. Akan tetapi, aku sadar bahwa hal yang paling dibutuhkan oleh mereka ialah kekuatan yang timbul dari diri sendiri. Kekuatan yang akan tumbuh seiring dengan berjalannya waktu, kekuatan yang akan memberikan peranan besar bagi diri kita baik pada masa ini maupun pada masa yang akan datang.

Waktu menegangkan menjelang pendaftaran seleksi menuju perguruan tinggi yang akan menjadi tujuan dari kita, kini telah kuhadapi didepan mata. Perasaan bercampur aduk yang terus menerus berkeliaran dalam benakku kini telah menjadi kawan setia. Memikirkan beragam skenario yang mungkin terjadi tak lama lagi, sekaligus memikirkan kemungkinan terburuk yang mungkin mendatangi diriku. Semua ini mungkin terasa berlebihan. Namun, bagiku ini adalah hal yang wajar untuk terjadi selama kita masih dapat memiliki kendali penuh dalam diri kita untuk memegang kontrol. Mendedikasikan mana hal sekiranya dapat membantu kita pada keadaan seperti ini, maupun memilih untuk tetap bertahan dan bukannya menyerah begitu saja pada keadaan. Memanjatkan doa dengan tak henti-hentinya menjadi satu hal yang terus kami lakukan. Aku juga merasa beruntung, bahwa disini bapak ibu guru juga turut memberikan sokongan secara aktif. Hal ini tentunya mengubah perspektif yang dahulu kumiliki karena penilaian orang lain mengenai sikap acuh tak acuh yang muncul dari bapak ibu guru.

Aku merasa bersyukur dapat dikelilingi dengan orang-orang yang saling mengerti keadaan satu sama lain. Perpisahan yang merupakan suatu hal yang pasti akan datang tiap kali kita menemui pertemuan memang merupakan hal yang mutlak. Namun aku percaya bahawa meski jarak akan menjadi hal yang membersamai kita nantinya. Aku yakin bahwa rasa kekeluargaan yang timbul diantara kita mungkin tidak akan berakhir hingga nanti. Setelah berbagi suka duka maupun canda tawa bersama selama tiga tahun lamanya. Aku masih mengingat jelas bagaimana awal pertemuan kita yang masih dipenuhi rasa canggung satu sama lain dahulu. Aku merasa terpukau mengenai bagaimana hal-hal yang terjadi diantara kita dapat berubah sejauh ini. Kita yang dahulu saling merasa asing. Kini kita merasa amat terbuka satu sama lain seolah tidak ada dinding pembatas diantara kita. Kembali menjadi asing pasca menghadapi perpisahan memang telah menjadi hal yang kutakutkan sejak lama. Akan tetapi, aku percaya bahwa tiada kata akhir untuk ikatan persaudaraan yang tumbuh diantara kita.

“Though miles may lie between us, we are never far apart, for friendship doesn’t count miles, it’s measured by the heart”.

-R. Hasham-